Drabble atau Draft?

by - March 01, 2021

Tulisan ini diperuntukkan untuk mengisi debu yang mengisi blog ini dikarenakan tidak adanya kegiatan sejak May 2020. Kesibukan membuat saya harus mengesampingkan blog blog saya. Selamat menikmati!

Ia seorang pahlawan. Di masa lalu.

Saat itu, gempa besar melanda kota kami. Membuat tempat ini seperti kota mati yang tak berdaya. Sungguh, saya mengaguminya ketika ia berbalut pengaman, memasuki celah reruntuhan dan membawa seorang yang selamat dari celah-celah bebatuan itu. Tak dapat dibayangkan berapa orang yang terkapar di dalam bebatuan tanpa dirinya. Ia, seorang yang rela mengorbankan jiwanya untuk melihat keharuan di kota mati ini
.
Kehidupannya seakan berhenti setelah gempa itu. Kini ia hanya tinggal di gubuk kecil samping komplek kami. Pakaiannya kumal, rambutnya gimbal dan jarang makan. Hanya saya dan seorang teman saya yang masih sering mengunjunginya, bahkan memberinya makan jika uang bulanan saya berlebih. Saya merasa iba dengannya, bagaimana mungkin penduduk komplek, bahkan kota ini melupakan jasanya.

“Dunia ini sudah tua, adikku. Manusia didalamnya sibuk mengurus kehidupannya sendiri,” ungkapnya sore itu.

Kami sering sekali berdiskusi dengannya. Setiap kali kami menyampaikan pendapat, ia akan menawarkan pemikiran filosofisnya. Kadang ia selalu mempertanyakan kehidupan dunia, atau sekedar mengutip dari buku-buku yang bertumpuk disudut ruangannya.

Saya tak pernah menyangka sore itu adalah sore terakhir kami bertemu dengannya. Hari selanjutnya, ia lenyap dari gubuk itu, meninggalkan sebuah buku tulis tebal bersampul hijau yang berjudul “autobiografi”.

Untuk saat ini, ceritanya selesai. Selamat siang!
Regards,

You May Also Like

0 Psycho-react!